asik asik ngutak ngatik laptop ehh nemu ini
Ini karya lamaku ... tapi tak pe lah yee .. saye nak posting sekarang saje ehhehe
“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia
yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa…”
Sepenggal kalimat
tersebut adalah kalimat yang amat menarik di telinga saya yang selalu saya
ingat sampai sekarang, kalimat yang terus diulang di hampir setiap hari senin
yang dibacakan di upacara bendera selama 9 tahun saya mengenyam pendidikan wajib
belajar semasa SD hingga SMA. Kalimat tersebut adalah kalimat yang tertuang
dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 alinea
ke 4. Namun di usianya yang menginjak 69 tahun ini, Indonesia ternyata masih
belum bisa merasakan kemerdekaan sepenuhnya terutama dalam bidang pendidikan,
pendidikan hanya bisa dirasakan oleh sebagian dari Rakyat Indonesia. Padahal
masalah pendidikan adalah “Janji Negara” yang termuat dalam Pembukaan UUD 45
alinea ke 4.
Pemerintah Indonesia
telah mencanangkan program “Wajar”. Wajar ialah “Wajib Belajar”, tapi kenyataan
yang terjadi tidak semua anak negeri bisa merasakan hak tersebut. Sungguh
ironis ketika melihat kemewahan dan kehidupan serba lebih dari kata cukup yang
melekat pada petinggi-petinggi negeri ini dan sangat bertolak belakang dari
kehidupan rakyat yang bahkan untuk bersekolah pun mereka tak mampu. Saya ingat
sepenggal kata dari bapak Anies Baswedan “Mendidik adalah Kewajiban setiap
orang Terdidik”, lalu bagaimana menyelesaikan masalah pendidikan terutama
pendidikan di daerah jika setiap orang yang berpendidikan di Indonesia bersikap
cuek dan lebih memilih bekerja daerah yang nyaman untuk ditinggali dari kota
hingga luar negeri bukannya membantu berpartisipasi dalam pendidikan Indonesia
khususnya untuk wilayah daerah.
Seringkali televisi
menyiarkan anak-anak negeri yang berjuang demi mendapatkan kesempatan untuk
mencari ilmu dengan menempuh jarak yang jauh sekali, bahkan banyak juga
rintangan yang harus mereka lewati dari berjalan beberapa kilo, melepas sepatu
saat menyeberang sungai, hingga melewati jembatan yang nyaris tak karuan lagi.
Berbeda dengan yang berkesempatan untuk mendapatkan pendidikan di kota dimana
mereka bisa mendapatkan akses mudah dan terjangkau dengan sarana dan prasarana
yang memadai.
Saatnya merenung
sejenak untuk merasakan apa yang anak-anak di pelosok negeri ini rasakan, dan
semakin bersyukur dengan segala kesempatan yang ada dan memanfaatkannya dengan
baik, mari mengeluarkan segala potensi diri yang ada.
Bersama dengan semangat
jiwa muda yang saya miliki, saya sangat ingin mengabdikan diri, mendermakan
ilmu dan menjadi salah satu bagian yang turut berperan meneruskan perjuangan
kemerdekaan, terutama di bidang pendidikan. Dengan ikut serta berperan mengabdikan
diri di daerah, saya harap saya dapat membantu memeratakan pendidikan. Inilah mungkin langkah awal yang bisa saya
lakukan setidaknya untuk membantu membereskan sedikit masalah pendidikan
Indonesia dengan mengeluarkan segala kemampuan yang ada pada diri saya untuk
mengabdi kepada negeri ini, bersama dengan para Pejuang Pendidikan yang
sama-sama berupaya memperjuangkan pendidikan di Indonesia. Dengan upaya kecil
ini semoga tidak ada lagi kekurangan tenaga Pendidik di daerah pelosok dan
tidak ada lagi anak-anak negeri yang tidak memperoleh kesempatan untuk
mengenyam pendidikan. Mari segera kita hapus kesenjangan itu, mari kita selamatkan
generasi muda dari kebodohan, mari kita cerdaskan anak-anak bangsa supaya kelak
mereka bisa menjadi insan yang berkualitas dalam membangun bangsa! Saatnya
berjuang mengabdi pada Negeri. Inilah Saya dan peran saya untuk memajukan
pendidikan di Papua.
Singosari, 17-11-2014
Ruang tamu - 23:24 pm