Selasa, 28 Juli 2015

Papua, 17-11-2014 . Miss Vava

asik asik ngutak ngatik laptop ehh nemu ini

Ini karya lamaku ... tapi tak pe lah yee .. saye nak posting sekarang saje ehhehe





“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”

            Sepenggal kalimat tersebut adalah kalimat yang amat menarik di telinga saya yang selalu saya ingat sampai sekarang, kalimat yang terus diulang di hampir setiap hari senin yang dibacakan di upacara bendera selama 9 tahun saya mengenyam pendidikan wajib belajar semasa SD hingga SMA. Kalimat tersebut adalah kalimat yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 alinea ke 4. Namun di usianya yang menginjak 69 tahun ini, Indonesia ternyata masih belum bisa merasakan kemerdekaan sepenuhnya terutama dalam bidang pendidikan, pendidikan hanya bisa dirasakan oleh sebagian dari Rakyat Indonesia. Padahal masalah pendidikan adalah “Janji Negara” yang termuat dalam Pembukaan UUD 45 alinea ke 4.

            Pemerintah Indonesia telah mencanangkan program “Wajar”. Wajar ialah “Wajib Belajar”, tapi kenyataan yang terjadi tidak semua anak negeri bisa merasakan hak tersebut. Sungguh ironis ketika melihat kemewahan dan kehidupan serba lebih dari kata cukup yang melekat pada petinggi-petinggi negeri ini dan sangat bertolak belakang dari kehidupan rakyat yang bahkan untuk bersekolah pun mereka tak mampu. Saya ingat sepenggal kata dari bapak Anies Baswedan “Mendidik adalah Kewajiban setiap orang Terdidik”, lalu bagaimana menyelesaikan masalah pendidikan terutama pendidikan di daerah jika setiap orang yang berpendidikan di Indonesia bersikap cuek dan lebih memilih bekerja daerah yang nyaman untuk ditinggali dari kota hingga luar negeri bukannya membantu berpartisipasi dalam pendidikan Indonesia khususnya untuk wilayah daerah.

            Seringkali televisi menyiarkan anak-anak negeri yang berjuang demi mendapatkan kesempatan untuk mencari ilmu dengan menempuh jarak yang jauh sekali, bahkan banyak juga rintangan yang harus mereka lewati dari berjalan beberapa kilo, melepas sepatu saat menyeberang sungai, hingga melewati jembatan yang nyaris tak karuan lagi. Berbeda dengan yang berkesempatan untuk mendapatkan pendidikan di kota dimana mereka bisa mendapatkan akses mudah dan terjangkau dengan sarana dan prasarana yang memadai.

            Saatnya merenung sejenak untuk merasakan apa yang anak-anak di pelosok negeri ini rasakan, dan semakin bersyukur dengan segala kesempatan yang ada dan memanfaatkannya dengan baik, mari mengeluarkan segala potensi diri yang ada.

            Bersama dengan semangat jiwa muda yang saya miliki, saya sangat ingin mengabdikan diri, mendermakan ilmu dan menjadi salah satu bagian yang turut berperan meneruskan perjuangan kemerdekaan, terutama di bidang pendidikan. Dengan ikut serta berperan mengabdikan diri di daerah, saya harap saya dapat membantu memeratakan pendidikan.  Inilah mungkin langkah awal yang bisa saya lakukan setidaknya untuk membantu membereskan sedikit masalah pendidikan Indonesia dengan mengeluarkan segala kemampuan yang ada pada diri saya untuk mengabdi kepada negeri ini, bersama dengan para Pejuang Pendidikan yang sama-sama berupaya memperjuangkan pendidikan di Indonesia. Dengan upaya kecil ini semoga tidak ada lagi kekurangan tenaga Pendidik di daerah pelosok dan tidak ada lagi anak-anak negeri yang tidak memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Mari segera kita hapus kesenjangan itu, mari kita selamatkan generasi muda dari kebodohan, mari kita cerdaskan anak-anak bangsa supaya kelak mereka bisa menjadi insan yang berkualitas dalam membangun bangsa! Saatnya berjuang mengabdi pada Negeri. Inilah Saya dan peran saya untuk memajukan pendidikan di Papua.



Singosari, 17-11-2014
Ruang tamu - 23:24 pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar